BYTENEWS.ID, WAJO – Pemerintah Kabupaten Wajo memperkuat langkah penanganan dampak musim kemarau panjang yang mulai mengurangi ketersediaan air pertanian dan berpotensi mengancam produktivitas lahan serta hasil panen petani di sejumlah wilayah.(10/8/2026)

Di tengah kondisi tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pameneri, M.Si., bergerak memperkuat koordinasi lintas sektor dengan melibatkan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, dengan dukungan pemerintah pusat dan berbagai pemangku kepentingan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkab Wajo untuk memastikan kebutuhan air bagi lahan pertanian tetap terpenuhi sekaligus meminimalkan dampak kekeringan terhadap petani.

27 Ribu Hektare Terdampak Kekeringan
Berdasarkan Rekapitulasi Data Kekeringan Kabupaten Wajo Tahun 2026, dari total luas pertanaman sekitar 94.852 hektare, tercatat 27.013 hektare berada dalam berbagai tingkat dampak kekeringan.
Rinciannya, sebanyak 15.648 hektare berstatus waspada, 11.073 hektare terdampak ringan, 145 hektare terdampak berat, dan 147 hektare mengalami puso.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah mengingat sektor pertanian merupakan salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Wajo.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Andi Pameneri, menegaskan pihaknya akan mengoptimalkan berbagai program bantuan pemerintah pusat untuk memperkuat ketersediaan air di kawasan pertanian.
250 Titik Sumur Bor Disiapkan
Salah satu langkah yang dipercepat adalah realisasi program Optimalisasi Lahan Nonrawa melalui pembangunan titik bor dangkal.
Tahap pertama mencakup 85 titik bor dangkal, sementara tahap kedua sebanyak 165 titik yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Wajo.
Dengan demikian, terdapat 250 titik bor dangkal yang menjadi bagian dari upaya menyediakan sumber air alternatif bagi lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
Selain sumur bor, pemerintah daerah juga mendorong percepatan realisasi irigasi perpompaan pada 75 titik dan irigasi perpipaan pada 10 titik.
Program tersebut diharapkan dapat membantu petani memperoleh sumber air secara lebih cepat dan menjaga keberlangsungan pertanaman selama periode kekeringan.
Optimalisasi Lahan Rawa hingga 3.025 Hektare
Upaya penanganan kekeringan juga dilakukan melalui optimalisasi lahan rawa dengan luas areal mencapai 3.025 hektare.
Program tersebut disertai dengan realisasi bantuan sarana dan prasarana pertanian kepada kelompok tani di berbagai wilayah sebagai bagian dari penguatan produktivitas pertanian.
Tak berhenti di situ, pada 6 Agustus 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo telah mengajukan permohonan bantuan 244 unit pompa air berukuran tiga inci kepada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian.
Pengajuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan petani dalam mendapatkan sumber air alternatif selama musim kemarau.
Infrastruktur Pertanian Ikut Diperkuat
Melalui perubahan anggaran daerah, Pemerintah Kabupaten Wajo juga memperkuat pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pertanian.
Sejumlah program yang didorong meliputi peningkatan jalan usaha tani, pengeboran sumur air tanah dalam, serta pembangunan dan pemeliharaan saluran tersier.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya menjawab persoalan kekeringan saat ini, tetapi juga memperkuat infrastruktur pertanian agar lebih siap menghadapi kondisi iklim yang tidak menentu.
15 Lokasi JIAT Telah Diusulkan, 40 Lokasi Disiapkan
Dukungan terhadap sektor pertanian juga diperkuat melalui Program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dilaksanakan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Kabupaten Wajo.
Pada tahap pertama, pemerintah daerah mengusulkan 15 lokasi, dengan 10 lokasi telah diterima.
Sementara untuk tahap kedua Tahun 2026, Pemkab Wajo menyiapkan pengusulan tambahan sebanyak 40 lokasi JIAT.
Program tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem penyediaan air bagi kawasan pertanian, khususnya wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air permukaan.
264 Titik Lisah Diusulkan
Upaya penyediaan air pertanian juga didukung melalui Program Listrik Masuk Sawah (Lisah).
Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Wajo, terdapat 264 titik usulan Lisah yang tersebar di 12 kecamatan.
Dari jumlah tersebut, 171 titik berada dalam wilayah layanan PLN ULP Sengkang dan 93 titik berada dalam wilayah layanan PLN ULP Paria.
Sementara itu, sebanyak 43 titik usulan Lisah telah mendapatkan persetujuan PLN untuk sambungan listrik.
Ketersediaan jaringan listrik di kawasan persawahan diharapkan dapat mendukung pengoperasian pompa air serta berbagai sarana pertanian lainnya sehingga sistem pengairan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Kadis Pertanian: Semua Program Harus Bergerak Bersamaan
Andi Pameneri menegaskan, berbagai program tersebut tidak berdiri sendiri. Penyediaan sumber air melalui sumur bor harus diperkuat dengan sistem irigasi, jaringan listrik, sarana pompa, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Dengan pola tersebut, pemerintah daerah berupaya membangun sistem penanganan kekeringan yang lebih terpadu, mulai dari sumber air, distribusi air, energi untuk pompa, hingga infrastruktur pertanian.
Pemkab Wajo juga terus melakukan pemutakhiran data, verifikasi lapangan, serta penanganan berdasarkan tingkat kekeringan dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Pemerintah daerah mengajak pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta masyarakat untuk memperkuat koordinasi dan segera melaporkan perubahan kondisi pertanaman di wilayah masing-masing.
Langkah terpadu tersebut diharapkan mampu meminimalkan dampak musim kemarau, menjaga produktivitas lahan, melindungi petani dari ancaman gagal panen, sekaligus mempertahankan kontribusi Kabupaten Wajo dalam mendukung swasembada pangan nasional.
Andi Pameneri: Pertanian Wajo Harus Tetap Bergerak di Tengah Kemarau
Melalui kepemimpinan dan koordinasi lintas sektor, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo terus mendorong agar persoalan kekeringan tidak hanya ditangani secara reaktif, tetapi menjadi momentum memperkuat sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Sumber air diperkuat, irigasi dibangun, listrik masuk sawah, petani dilindungi. Wajo terus bergerak menjaga ketahanan pangan.
(CDR)