BYTENEWS.ID, WAJO – Menghadapi ancaman kekeringan yang mulai berdampak terhadap lahan pertanian, Bupati Wajo Andi Rosman tidak tinggal diam. Pemerintah Kabupaten Wajo bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus bergerak mencari solusi untuk memastikan ketersediaan air bagi petani tetap terjaga.(11/8/2026)
Tidak hanya mengandalkan pembangunan sumur bor dan pompa air, Bupati Andi Rosman juga telah bersurat untuk meminta penambahan debit air pada daerah irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, termasuk Daerah Irigasi Bila dan Daerah Irigasi Saddang.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkab Wajo dalam menghadapi musim kemarau sekaligus menjaga keberlangsungan produksi pertanian di wilayah yang terdampak kekurangan air.
27.013 Hektare Pertanaman Terdampak
Berdasarkan Rekapitulasi Data Kekeringan Kabupaten Wajo Tahun 2026, dari total luas pertanaman sekitar 94.852 hektare, sebanyak 27.013 hektare tercatat mengalami berbagai tingkat dampak kekeringan.
Rinciannya, 15.648 hektare berstatus waspada, 11.073 hektare terdampak ringan, 145 hektare terdampak berat, dan 147 hektare mengalami puso.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Bupati Andi Rosman karena sektor pertanian merupakan salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Wajo.
Andi Rosman Gerakkan Dinas Pertanian
Di bawah arahan Bupati Wajo, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pameneri, M.Si., terus mengoptimalkan berbagai program untuk memperkuat ketersediaan air pertanian.
Sebanyak 250 titik bor dangkal dipersiapkan melalui program Optimalisasi Lahan Nonrawa, terdiri atas 85 titik tahap pertama dan 165 titik tahap kedua.
Selain itu, Pemkab Wajo mendorong percepatan realisasi 75 titik irigasi perpompaan dan 10 titik irigasi perpipaan.
Langkah tersebut diperkuat dengan optimalisasi lahan rawa seluas 3.025 hektare serta bantuan sarana dan prasarana pertanian bagi kelompok tani di berbagai wilayah.
Bupati Bersurat Minta Tambahan Debit Air
Salah satu langkah penting yang dilakukan Bupati Andi Rosman adalah mendorong penguatan pasokan air dari sistem irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.
Bupati Wajo telah menyampaikan surat permohonan penambahan debit air untuk daerah irigasi kewenangan pusat, termasuk Daerah Irigasi Bila dan Saddang.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa Pemkab Wajo tidak hanya melakukan penanganan melalui program yang berada dalam kewenangan pemerintah daerah, tetapi juga aktif berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan pasokan air ke kawasan pertanian tetap tersedia.
Dengan tambahan debit air tersebut, diharapkan distribusi air ke wilayah pertanian dapat lebih optimal, terutama pada kawasan yang sangat bergantung pada jaringan irigasi tersebut.
244 Pompa Air Diajukan ke Kementerian Pertanian
Keseriusan Pemkab Wajo juga terlihat dari langkah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan yang pada 6 Agustus 2026 mengajukan permohonan bantuan 244 unit pompa air ukuran tiga inci kepada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian.
Bantuan tersebut diharapkan menjadi tambahan kekuatan bagi petani untuk memperoleh sumber air alternatif selama musim kemarau.
JIAT dan Listrik Masuk Sawah Ikut Diperkuat
Penanganan kekeringan juga dilakukan melalui penguatan infrastruktur.
Pada Program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), sebanyak 15 lokasi telah diusulkan pada tahap pertama dan 10 lokasi telah diterima. Untuk tahap kedua, Pemkab Wajo menyiapkan pengusulan tambahan 40 lokasi JIAT.
Sementara melalui Program Listrik Masuk Sawah (Lisah), terdapat 264 titik usulan yang tersebar di 12 kecamatan.
Sebanyak 43 titik telah mendapatkan persetujuan PLN untuk sambungan listrik. Infrastruktur listrik tersebut diharapkan dapat mendukung pengoperasian pompa air di kawasan persawahan.
Bupati Andi Rosman: Semua Jalur Harus Ditempuh
Penanganan kekeringan di Wajo dilakukan melalui berbagai jalur sekaligus. Mulai dari sumur bor, pompa air, irigasi perpipaan, JIAT, Listrik Masuk Sawah hingga mengupayakan tambahan debit air dari jaringan irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.
Bupati Andi Rosman mendorong seluruh perangkat daerah terkait untuk terus berkoordinasi dan memastikan setiap program berjalan sesuai kebutuhan petani di lapangan.
Sementara Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus melakukan pemutakhiran data, verifikasi lapangan dan pemetaan kondisi pertanaman untuk menentukan langkah penanganan secara tepat.
Pesan yang ingin ditegaskan Pemkab Wajo jelas: menghadapi kemarau, pemerintah tidak boleh hanya menunggu hujan.
Bupati Andi Rosman bergerak, Dinas Pertanian bekerja, seluruh perangkat daerah bersinergi. Sumber air diperkuat, irigasi dikejar, pompa disiapkan dan debit air diperjuangkan.
Wajo Tidak Diam Hadapi Kemarau
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Kabupaten Wajo berupaya meminimalkan dampak kekeringan, melindungi petani dari ancaman gagal panen, sekaligus menjaga produksi pangan daerah.
Andi Rosman bersama Dinas Pertanian terus bergerak memastikan petani Wajo tidak menghadapi kemarau seorang diri.
Bupati Bergerak, Pertanian Dijaga, Petani Dilindungi — Wajo Terus Menjaga Ketahanan Pangan.
(CDR)